Hedonist

Friday, January 18, 2019



Assalamu'alaik

Gimana kabarnya? Aku alhamdulillah baik-baik saja, a lil bit upset tapi sudah terbiasa dengannya jadi ya sudahlah. 

Hari ini mau bahas apaan? Kok judulnya hedonist? Apakah aku akan mengajak pembaca untuk hedon? 

No, honey! 

Aku cuma mau berbagi, mulai sekarang memberanikan diri beropini, mencurahkan kegelisahan isi hati, halah...nggak ding, mau ngajak pembaca untuk tidak menjudge orang sebegitunya hanya dengan lihat SosMednya 💁🏻‍♀️ 

For me, Instagram is a place to where you can be someone, maksudku gini loh, tidak melulu genuine yang beneran real, ada yang namanya personal branding, kamu di Instagram ingin terlihat seperti apa, dan apa saja yang ingin kamu bagikan ke khalayak netizen itu hak kita. 
Kayak aku, I never post about my job or my relationship, ya karena itu diluar content branding sekarang, santri yang modelling dan berentrepreneur jadi fokus untuk instagramku 💁🏻‍♀️

Terus dalam hati kalian bilang kan
....
(Ya menjudge juga urusan kita keles) 
...

Nggak gitu mainnya, kalau judgingnya cuma sekedar mbatin "Hedon dia" oke. 
Kejadian yang sering menimpaku, "Atika itu hedon, coba lihat cara dandannya, makannya dimana, kamu tidak akan sanggup mengikuti gaya hidupnya" ada profokasi didalam kata-katanya, nah ini yang nggak sehat 💁🏻‍♀️ 

Lalu, judging someone by social media itu juga wagu, kenal dekat juga nggak tapi komennya bisa warna-warni, 
laa gini...
Atika suka memposting makan di Kntan, lantas apakah Atika everyday makan di Kntan? 
Yo ga tho... 
Justru, malah nggak pernah makan disitu akhirnya diposting 💁🏻‍♀️ 
Apakah dengan Atika posting makanan angkringan akan merubah mindsetnya? 
Tentu sama saja! 

Eh, aku bukan sedang seperti Debat Capres ya membenarkan apa yang selama ini salah. La wong gini, apa yang sudah kita posting di Sosial Media, niat kita apa orang ya nangkap beda, itu memang udah diluar kendali kita kan? Sadar kok. 

Cuma, untuk mencegah semakin kencangnya gerakan judging, aku kasih tau, judging orang lewat sosial media itu mirip-mirip sama bullying. Anda cuma ngomong, efek ke penerimanya? Loss self-esteem, jadi tidak pede, bingung sama jati dirinya dan berusaha memenuhi keinginan orang yang kasih komentar 💁🏻‍♀️ (ini yang aku rasain sih)
Padahal, tidak akan selesai komentar kita ke oranglain kan? Njuk kamu mau jadi Bunglon berapa kali? 

Jadi, njenengan yang keheranan mengapa aku jarang review dan ootd, jawabannya adalah efek dari beberapa komentar dan aku berusaha memenuhinya. 
Lantas, apakah merubah komentar? 
Ya, tentu tidak 💁🏻‍♀️

Mengapa tulisan aku sok artis sekali, eh ga gitu sistur, aku cuma ingin pembaca tau, bahwa segitunya efek komentar pedas untuk seseorang, komentar kita bisa merubah hidup orang yang tadinya enjoy jadi nggak, yang tadinya happy jadi nggak, #sekedarmengingatkan bukan lagi sekedar, yang kamu anggap cuma asal ngomong ditangkap dengan tidak asal-asalan. 
So, please be wise! 
Dan teruntuk anda yang kena komen tidak sesuai dengan dirimu, keep movin forward girl! Just be yourself, nggak ada yang salah dengan dirimu! 

Salam love, gawl, and peace 💃🏻
Sekian, 

Wassalam'alaik 

You Might Also Like

0 komentar

Berkomentarlah selagi ada lahan untuk menampung :)

Subscribe